TEMBILAHAN -Pengelolaan limbah di RSUD Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) kembali menjadi sorotan. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) rumah sakit tersebut diduga tidak berfungsi dengan baik dalam memproses limbah cair yang dihasilkan dari aktivitas rumah sakit.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, IPAL RSUD Inhil diduga tidak mampu mengolah seluruh limbah cair domestik maupun limbah klinis sehingga dikhawatirkan tidak memenuhi baku mutu lingkungan.
Selain itu, kapasitas IPAL juga dipertanyakan karena diduga tidak disesuaikan dengan volume limbah yang dihasilkan setiap hari. Debit air limbah disebut tidak sebanding dengan penggunaan air bersih harian di rumah sakit yang cukup besar.
Dalam kondisi tersebut, muncul dugaan bahwa limbah cair hanya dicampur dengan air lalu dialirkan ke luar tanpa melalui proses pengolahan yang semestinya.
Padahal, pengelolaan limbah cair rumah sakit seharusnya menggunakan sistem pengolahan yang memadai, seperti metode biofilter anaerob-aerob, guna mengendalikan kandungan bahan organik serta menghilangkan mikroorganisme penyebab penyakit sebelum dibuang ke lingkungan.
Beberapa poin lain yang menjadi perhatian adalah ketidakjelasan pengelola IPAL di RSUD Inhil. Informasi dari sumber internal menyebutkan bahwa pengelolaan IPAL tidak jelas dan instalasi tersebut diduga tidak berfungsi secara optimal.
Selain limbah cair, pengelolaan limbah dapur organik rumah sakit juga turut dipertanyakan. Menurut informasi yang diperoleh, limbah dapur sering diangkut pada malam hari, namun tidak diketahui secara pasti ke mana limbah tersebut dibuang.
Di sisi lain, kapasitas minimal IPAL seharusnya dihitung berdasarkan proyeksi volume limbah yang dihasilkan rumah sakit setiap hari. Dengan aktivitas rumah sakit yang cukup besar, volume limbah cair yang dihasilkan juga diperkirakan tinggi jika dihitung dalam liter per hari.
Selain persoalan teknis pengelolaan limbah, penggunaan anggaran juga menjadi perhatian. Dana yang dialokasikan untuk perawatan dan pengelolaan limbah RSUD disebut cukup besar, namun dalam pelaksanaannya diduga tidak jelas.
Tak hanya itu, pengadaan belut yang berkaitan dengan pengelolaan limbah juga ikut disorot.
Pengadaan tersebut diduga terjadi mark up sehingga menimbulkan pertanyaan terkait penggunaan anggaran yang dialokasikan.
Di sisi lain, muncul pula dugaan terkait pengadaan obat-obatan di RSUD Inhil. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pengadaan obat-obatan diduga dititipkan ke beberapa apotek di wilayah Indragiri Hilir.
Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya praktik bisnis terselubung dalam pengelolaan obat-obatan yang berkaitan dengan kebutuhan rumah sakit.
Selain itu, proyek IPAL yang berkaitan dengan fasilitas kesehatan juga disebut-sebut tidak berfungsi secara optimal meskipun memakan biaya pemeliharaan yang cukup besar. Kondisi ini dikhawatirkan menyebabkan limbah tidak terolah dengan baik dan berpotensi langsung terbuang ke lingkungan tanpa proses pengolahan yang semestinya.
Pantauan di sekitar kawasan RSUD Inhil juga memperlihatkan kondisi saluran got yang dinilai cukup kotor. Bahkan pada malam hari sering terlihat tikus berukuran besar keluar dari saluran tersebut.
“Coba saja lihat di sekeliling RSUD Inhil, kondisi got cukup kotor dan berbau tidak sedap, apalagi saat hujan turun, ujar seorang sumber berinisial S yang enggan disebutkan namanya.
Menurutnya, kondisi tersebut diduga berkaitan dengan pengelolaan limbah yang tidak jelas serta IPAL yang disebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Persoalan ini menjadi perhatian karena limbah rumah sakit tergolong limbah berisiko tinggi yang seharusnya dikelola secara ketat agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan maupun dampak kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Selain itu, penggunaan anggaran rumah sakit juga diharapkan dilakukan secara transparan dan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sementara itu Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada Tembilahan dr Udin Syafriudin M Kes, saat dikonfirmasi media ini, Ahad, 8 Maret 2026 melalui whatsApp, mengatakan, "coba hubungi Kepala TU RSUD," jawabnya.
Sedangkan Kepala Tata Usaha (KTU) RSUD Puri Husada Tembilahan, Fauzan, ketika digubungi melalui whatsApp, Senin, 9 maret 2026, mengatakan, "hari ini saya capek betul selesai acara tadi, besoklah. nanti saya hubungi," katanya. Sayangnya hingga berita ini naik, tidak konfirmasi dari yang bersangkutan. (Tim)